Guru dan Perbuatan Mengajar
Guru
dan Perbuatan Mengajar
A.
Karakteristik Pendidik
dan Perbuatan Pendidik
Karakteristik
guru adalah sifat yang khas yang dimiliki oleh seorang guru dalam kaitannya
dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Sifat ini yang akan membedakan
antara guru yang satu dengan lain ketika melakukan proses pembelajaran.
Meskipun setiap guru memiliki
karakteristik
yang berbeda-beda namun setiap guru harus memiliki standar kualifikasi akademik
guru dan standar kompetensi untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara
professional, sesuai dengan pendapat E. Mulyasa (2007: 17), pada hakikatnya
standar kompetensi dan standar kualifikasi akademik adalah untuk mendapatkan
guru yang baik dan professional yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan
tujuan sekolah dan tujuan pendidikan sesuai kebutuhan masyarakat dan tuntutan
zaman. Standar kompetensi dan standar kualifikasi akademik guru yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
1.
Kompetensi Profesional
Menurut
penjelasan Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, yang
dimaksud kompetensi profesional adalah kemampuan menguasai pelajaran secara
luas dan mendalam. Sedangkan menurut Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, kompetensi profesional
terdiri dari:
a.
Menguasai materi,
struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
diampu.
b.
Menguasai standar
kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.
c.
Mengembangkan materi
pelajaran yang diampu secara kreatif.
d.
Mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
e.
Memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.
2.
Kompetensi Pedagogik
Menurut
penjelasan Undang-UndangRI No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, yang
dimaksud kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta
didik. Sedangkan menurut Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, kompetensi pedagogik terdiri dari:
a.
Menguasai karakteristik
peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional,
dan intelektual.
b.
Menguasai teori belajar
dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
c.
Mengembangkan kurikulum
yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
d.
Menyelenggarakan
pembelajaran yang mendidik.
e.
Memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
f.
Memfasilitasi
pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimiliki.
g.
Berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
h.
Menyelenggarakan
penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
i.
Memanfaatkan hasil
penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
j.
Melakukan tindakan
reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
3.
Kompetensi Kepribadian
Menurut
penjelasan Undang-UndangRI No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, yang
dimaksud kompetensi kepribadian adalah kemampuan pribadi yang mantap, berakhlak
mulia, arif dan bijaksana serta menjadi teladan bagi peserta didik. Sedangkan
menurut Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru, kompetensi kepribadian terdiri dari:
a.
Bertindak sesuai dengan
norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
b.
Menampilkan diri sebagai
pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan
masyarakat.
c.
Menampilkan diri sebagai
pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
d.
Menunjukkan etos kerja,
tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
e.
Menjunjung tinggi kode
etik profesi guru.
4.
Kompetensi Sosial
Menurut
penjelasan Undang-UndangRI No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, yang
dimaksud kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan efisien kepada siswa, sesama guru, kepala
sekolah, orang tua/ wali dan masyarakat sekitar. Sedangkan menurut Permendiknas
No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru,
kompetensi sosial terdiri dari:
a.
Bersikap inklusif,
bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis
kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial
ekonomi.
b.
Berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang
tua, dan masyarakat.
c.
Beradaptasi di tempat
bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial
budaya.
d.
Berkomunikasi dengan
komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk
lain.
B. Model-model
Mengajar
Menurut Joyce & Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42)
model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas
belajar mengajar. Berikut beberapa contoh model mengajar :
1.
Examples Non
Examples
a.
Guru mempersiapkan gambar-gambar
sesuai dengan tujuan pembelajaran
b.
Guru menempelkan gambar di papan
atau ditayangkan melalui OHP
c.
Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar
d.
Melalui diskusi kelompok 2-3 orang
peserta didik, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
e.
Tiap kelompok diberi kesempatan
membacakan hasil diskusinya
f.
Mulai dari komentar/hasil diskusi
peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
g.
Kesimpulan
2.
Picture And
Picture
a.
Guru menyampaikan kompetensi yang
ingin dicapai
b.
Menyajikan materi sebagai pengantar
c.
Guru menunjukkan/memperlihatkan
gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
d.
Guru menunjuk/memanggil peserta
didik secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang
logis
e.
Guru menanyakan alasan/dasar
pemikiran urutan gambar tersebut
f.
Dari alasan/urutan gambar tersebut
guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
g.
Kesimpulan/rangkuman
3.
Numbered
Heads Together
a.
Peserta didik dibagi dalam kelompok,
setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
b.
Guru memberikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya
c.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang
benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui
jawabannya
d.
Guru memanggil salah satu nomor
peserta didik dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e.
Tanggapan dari teman yang lain,
kemudian guru menunjuk nomor yang lain
f.
Kesimpulan
4.
Cooperative
Script
a. Guru membagi
peserta didik untuk berpasangan
b. Guru
membagikan wacana/materi tiap peserta didik untuk dibaca dan membuat ringkasan
c. Guru dan
peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan
siapa yang berperan sebagai pendengar
d. Pembicara
membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok
dalam ringkasannya. Sementara pendengar :
e. Menyimak/mengoreksi/menunjukkan
ide-ide pokok yang kurang lengkap
f.
Membantu mengingat/menghafal ide-ide
pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
g. Bertukar
peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta
lakukan seperti diatas.
h. Kesimpulan
Peserta didik bersama-sama dengan Guru
i.
Penutup
5.
Kepala
Bernomor Struktur
a.
Peserta didik dibagi dalam kelompok,
setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
b.
Penugasan diberikan kepada setiap
peserta didik berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai. Misalnya :
peserta didik nomor satu bertugas mencatat soal. Peserta didik nomor dua
mengerjakan soal dan peserta didik nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan
seterusnya.
c.
Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja
sama antar kelompok. Peserta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan
bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam
kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau
mencocokkan hasil kerja sama mereka
d.
Laporkan hasil dan tanggapan dari
kelompok yang lain
e.
Kesimpulan
6.
Jigsaw
a.
Peserta didik dikelompokkan ke dalam
= 4 anggota tim
b.
Tiap orang dalam tim diberi bagian
materi yang berbeda
c.
Tiap orang dalam tim diberi bagian
materi yang ditugaskan
d.
Anggota dari tim yang berbeda yang
telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru
(kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
e.
Setelah selesai diskusi sebagai tim
ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu
tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh- sungguh
f.
Tiap tim ahli mempresentasikan hasil
diskusi
g.
Guru memberi evaluasi
h.
Penutup
7.
Problem
Based Introduction
a.
Guru menjelaskan kompetensi yang
ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan.
Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang
dipilih.
b.
Guru membantu peserta didik
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
c.
Guru mendorong peserta didik untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
d.
Guru membantu peserta didik dalam
merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka
berbagi tugas dengan temannya
e.
Guru membantu peserta didik untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan
8.
Thik Pair
And Share
a.
Guru menyampaikan inti materi dan
kompetensi yang ingin dicapai
b.
Peserta didik diminta untuk berfikir
tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
c.
Peserta didik diminta berpasangan
dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran
masing-masing
d.
Guru memimpin pleno kecil diskusi,
tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
e.
Berawal dari kegiatan tersebut, Guru
mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum
diungkapkan para peserta didik
f.
Guru memberi kesimpulan
g.
Penutup
9.
Debate
a.
Guru membagi 2 kelompok peserta
debat yang satu pro dan yang lainnya kontra
b.
Guru memberikan tugas untuk membaca
materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
c.
Setelah selesai membaca materi, Guru
menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian
ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar
peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya.
d.
Sementara peserta didik menyampaikan
gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai
mendapatkan sejumlah ide diharapkan.
e.
Guru menambahkan konsep/ide yang
belum terungkap
f.
Dari data-data yang diungkapkan
tersebut, guru mengajak peserta didik membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu
pada topik yang ingin dicapai.
10. Snowball Throwing
a.
Guru menyampaikan materi yang akan
disajikan
b.
Guru membentuk kelompok-kelompok dan
memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang
materi
c.
Masing-masing ketua kelompok kembali
ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh
guru kepada temannya
d.
Kemudian masing-masing peserta didik
diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja
yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
e.
Kemudian kertas yang berisi
pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke
peserta didik yang lain selama ± 15 menit
f.
Setelah peserta didik dapat satu
bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab
pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
g.
Evaluasi
h.
Penutup
C.
Metode dan Teknik Mengajar
Berikut adalah beberapa contoh
metode mengajar :
1.
Metode Proyek
Metode proyek atau unit adalah cara
penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas
sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Kelebihannya yaitu dapat
memperluas pemikiran siswa; dapat membina siswa dengan menerapkan pengetahuan,
sikap dan ketrampilan. Sedangkan kekurangannya adalah kurikulum saat ini yang
belum menunjang pelaksanaan metode ini; pemilihan topic unit yang tepat,
fasilitas cukup sesuai dengan kebutuhan siswa bukan pekerjaan mudah.
2. Metode
eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara
penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Kelebihan metode ini
adalah membuat siswa lebih percaya atas kebenaran berdasarkan percobaannya;
dapat membina siswa untuk membuat trobosan-trobosan baru dengan penemuan dari
hasil percobaannya; dll. Sedangkan kelemahan metode ini adalah lebih
sesuai dengan bidang-bidang sains dan teknologi;menuntut ketelitian, keuletan,
dan ketabahan; setiap percobaan tidak harus memberikan hasil yang diharapkan.
3.
Metode Penugasan
Metode resitasi
(penugasan) adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas agar
siswa melakukan kegiatan belajar. Kelebihan metode ini adalah lebih
merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok;
dapat mengembangkan kemandiirian siswa; mengembangkan kreativitas siswa, serta
membina tanggung jawab dan disiplin siswa. Sedangkan kekurangannya
adalah siswa sulit dikontrol, apakah ia mengerjakan sendiri atau tidak; tidak
mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individual siswa.
4.
Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian
pelajaran, dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bias berupa
pernyataan atau pertanyaan untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Kelebihan
metode ini adalah mengembangkan sikap menghargai orang lain; memperluas
wawasan; serta merangsang kreativitas anak didik. Sedang kekurangannya
adalah tidak dapat dipakai kelompok yang besar; peserta mendapat inbformasi
yang terbatas; serta dikuasai oleh orang yang pandai berbicara saja.
5.
Metode Demonstrasi
Metode
demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan kepada siswa suatu
proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari. Kelebihan
metode ini adalah siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari; proses
pengajaran lebih menarik. Kekurangannya adalah harus memerlukan
ketrampilan khusus; fasilitas yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
6.
Metode Pemecahan Masalah
Metode
problem solving (pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi
juga merupakan satu metode berpikir, sebabdapat menggunakan metode-metode
lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Kelebihan metode ini adalah dapat mambuat pendidikan di sekolah menjadi lebih
relevan dengan kehidupan; dapat membiasakan para siswa menghadapi dan
memecahkan masalah; serta merangsang pengembangan kemampuan berpikirsiswa
secara kreatif dan menyeluruh. Sedangkan kekurangannya adalah proses belajar
mengajar sering memerlukan waktu yang cukup banyak; mengubah kebiasaan siswa
belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru.
7.
Metode Karyawisata
Dikatakan
teknik karyawisata karena cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajar siswa
ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk
mempelajari/menyelidiki sesuatu. Kelebihan metode ini adalah memiliki prinsip
pengajaran modern; lebih merangsang kreatifitas siswa; informasi sebagai bahan
pelajaran lebih luas dan actual. Sedangkan kekurangannya adalah fasilitas dan
biaya yang diperlukan sulit disediakan oleh siswa/sekolah; memerlukan persiapan
yang matang dan sebagainya.
8.
Metode Tanya Jawab
Metode
Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
dijawab, bias dari guru kepada siswa maupun siswa kepada guru. Kelebihan metode
ini adalah pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa; merangsang
siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan;
mengembangkan keberanian dan ketrampilan siswa. Sedangkan kelemahannya adalah
siswa merasa takut; tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat
berpikir siswa; sering membuang-buang waktu.
9.
Metode Latihan
Metode
latihan (metod training), merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk
menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Kelebihannya adalah untuk memperoleh
kecakapan motorik, mental, dan dalam bentuk asosiasi yang dibuat. Kelemahannya
adalah menghambat bakat dan inisiatif siswa; membentuk kebiasaan yang kaku;
serta dapat menimbulkan verbalisme.
10.
Ceramah
Metode ceramah adalah
metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini
telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam
proses mengajar. Kelebihan metode aini adalah guru mudah menguasai kelas; mudah
mengkoordinasikan tempat duduk; dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
Kelemahannya adalah mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata); sifatnya
membosankan; susah untuk dimengerti oleh siswa; siswa menjadi pasif.
D.
Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya
untuk mempertahankan ketertiban kelas, tetapi ngengertian pengelolaan
pembelajaran ini telah mengalamai perkembangan dan diartikan proses seleksi dan
menggunakan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi pengelolaan
pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dicapai kondisi
yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang
diharapkan (Arikunto, 1986: 143). Berikut adalah beberapa
contoh model pengelolaan pembelajaran :
1.
Model
Pengelelolaan Pembelajaran Klasikal
Pengelelolaan
Pembelajaran Klasikal adalah model pengelolaan pembelajaran yang biasa kita
lihat sehari-hari. Istilah klasikal bisa diartikan sebagai secara klasik yang
menyatakan bahwa kondisi yang sudah lama terjadi, bisa juga diartikan sebagai
bersifat kelas. Jadi pembelajaran klasikal berarti pembelajaran konvensional
yang biasa dilakukan di kelas selama ini, yaitu pembelajaran yang memandang
peserta didik berkemampuan tidak berbeda atau sama sehingga mereka mendapat
pelajaran secara bersama, dengan cara yang sama dalam satu kelas sekaligus.
Pembelajaran klasikal tidak berarti jelek, tergantung proses kegiatan yang
dilaksanakan, yaitu apakah semua peserta didik berartisipasi secara aktif
terlibat dalam pembelajaran, atau pasif tidak terlibat, atau hanya mendengar
dan mencatat, apakah pembelajara efektif mencapai tujuan pembelajaran, apakah
pembelajaran menyenangkan bagi pendidik dan peserta didik.
Pada model pengelolaan
pembelajaran ini pendidik mengajar sejumlah peserta didik, biasanya antara
30-40 peserta didik di dalam sebuah ruangan kelas. Dalam kondisi seperti ini,
kondisi belajar peserta didik secara individual baik menyangkut kecepan
belajar, kesulitan belajar dan minat belajar kurang diperhatikan oleh pendidik.
Pada umumnya cara pendidik dalam menentukan kecepatan menyajikan materi
pembelajaran dan tingkat kesukaran materi pembelajaran bergantun pada informasi
kemampuan peserta didik secara umum. Pendidik tapak sangat mendominasi dalam
menentukan semua kegiatan pembelajaran. Banyaknya materi yang akan diajarkan,
urutan materi pelajaran, kecepatan pendidik mengajar dan lain-lain sepenuhnya
ada ditangan pendidik.
2.
Model
Pengelolaan Pembelajaran Individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan
pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan individu dalam
pengorganisasian pembelajaran yang menitik beratkan bantuan dan bimbingan
belajar kepada individual kelas secara khusus. Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar pembelajar yang
memetik beratkan bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu.
Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran
klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual, pembelajar
memberi bantuan pada masing-masing pribadi. Ciri-ciri yang menonjol pada
pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi: tujuan pembelajaran, peserta
didik sebagai subjek yang belajar, pendidik sebagai fasilisator, program
pembelajaran, orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran.
3.
Model
Pengelolaan Pembelajaran Tematik
Pengelolaan pembelajaran tematik menitikberatkan tema sebagai dasar
perancangan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan tema tertentu peserta didik
dapat mengikuti kegiatan pembelajaran klasikal atau individual. Pembelajaran
tematik pada umumnya sering dipergunakan dalam pembelajaran peserta didik yang
berada pada kelas awal sekolah dasar berada pada rentangan usia dini. Peserta
didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada
rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan
tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat
segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan
antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada
objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Kondisi-kondisi tersebut ini menjadi landasan bagi pengembangan pola dan
strategi pembelajaran yang tepat, tidak saja agar tujuan-tujuan pembelajaran
dapat tercapai, melainkan juga agar tujuan program pendidikan dapat terpenuhi,
yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia,
serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Pembelajaran tematik yang melibatkan berbagai mata pelajaran untuk memberikan
pengalaman yang bermakna kepada peserta didik, merupakan model pembelajaan
inovatif yang dapat menjadi solusi bagi pembelajaran terpisah yang selama ini
digunakan di kelas-kelas awal sekolah dasar. Salah satu dimensi penting dari pembelajaran tematik tersebut adalah
strategi pembelajarannya. Penetapan strategi pembelajaran yang tepat dan
optimal akan mendorong prakarsa dan memudahkan belajar peserta didik. Titik
awal upaya ini diletakkan pada perbaikan proses. Oleh karena itu, penyelidikan
yang cermat tentang strategi pembelajaran tematik menjadi penting dan mendesak
di tengah kebingungan banyak sekolah menemukan sosok utuh strategi pembelajaran
tematik, teristimewa melalui kajian empirik.
Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk
Mengatasi Masalah Perbuatan Atau Cara Guru Mengajar
Peran
guru dalam sebuah proses pembelajaran sangat penting. Berdasarkan pengalaman pribadi saya saat SMA,
guru kimia saya masih belum memiliki karakteristik yang sesuai dengan standar
kualifikasi akademik guru dan standar kompetensi guru seperti yang telah
dijelaskan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, cara guru mengajar hanya
itu-itu saja sehingga membuat siswa benci pelajaran kimia. Pada kenyataannya
mereka hanya berkerja untuk mencari nafkah (mengajar seadanya kemudian pulang
setelah sekolah berakhir). Padahal berkualitasnya atau tidaknya pendidikan yang diperoleh oleh siswa tergantung dari
guru yang mengajarnya. Kinerja seorang
guru mungkin akan dipertanyakan apabila pembentukan intelektual dan kepribadian
anak tidak berhasil sesuai harapan masyarakat. Hal ini biasanya dinilai
masyarakat dengan melihat mutu kelulusan siswa dari suatu sekolah
sehingga terkadang disuatu daerah terbentuklah suatu sekolah favorit dan
sekolah buangan. Menurut saya ini akan menjadi masalah besar apabila terus
dibiarkan. Untuk menangani masalah ini diperlukan bantuan dari berbagai pihak
(kepala sekolah, dinas pendidikan, dan lainnya) agar kinerja guru dalam
mengajar menjadi lebih baik. Menurut saya upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kinerja guru dalam proses mengajar dapat dilakukan melalui
beberapa terobosan seperti dibawah ini :
1.
Kepala Sekolah harus memahami dan
melakukan tiga fungsi sebagai penunjang peningkatan kinerja guru antara lain :
·
Membantu guru memahami, memilih dan
merumuskan tujuan pendidikan yang dicapai.
- Mendorong
guru agar mampu memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi dan
dapat melihat hasil kerjanya.
- Memberikan
pengakuan atau penghargaan terhadap prestasi kerja guru secara layak, baik
yang diberikan oleh kepala sekolah maupun yang diberikan semasa guru, staf
tata usaha, siswa, dan masyarakat umum maupun yang diberikan pemerintah.
- Mendelegasikan
tanggung jawab dan kewenangan kerja kepada guru untuk mengelola proses
belajar mengajar dengan memberikan kebebasan dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar.
- Membantu
memberikan kemudahan kepada guru dalam proses pengajuan kenaikan pangkatnya
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
- Membuat
kebijakan sekolah dalam pembagian tugas guru, baik beban tugas mengajar,
beban administrasi guru maupun beban tugas tambahan lainnya harus
disesuaikan dengan kemampuan guru itu sendiri.
- Melaksanakan
tehnik supervisi yang tepat sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan
keinginan guru-guru secara berkesinambungan dalam upaya memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.
- Mengupayakan
selalu meningkatkan kesejahteraannya yang dapat diterima guru serta
memberikan pelayanan sebaik-baiknya.
- Menciptakan
hubungan kerja yang sehat dan menyenangkan dilingkungan sekolah baik
antara guru dengan kepala sekolah, guru dengan guru, guru dengan siswa,
guru dengan tata usaha maupun yang lainnya.
- Menciptakan
dan menjaga kondisi dan iklim kerja yang sehat dan menyenangkan di
lingkungan sekolah, terutama di dalam kelas, tempat kerja yang
menyenangkan, alat pelajaran yang cukup dan bersifat up to date, tempat
beristirahat di sekolah yang nyaman, kebersihan dan keindahan sekolah,
penerangan yang cukup dan masih banyak lagi.
- Memberiukan
peluang pada guru untuk tumbuh dalam meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan keahlian mengajar, dan memperoleh keterampilan yang baru.
- Mengupayakan
adanya efek kerja guru di sekolah terhadap keharmonisan anggota keluarga,
pendidikan anggota keluarga, dan terhadap kebahagiaan keluarganya.
- Mewujudkan
dan menjaga keamanan kerja guru tetap stabil dan posisi kerjanya tetap
mantap sehingga guru merasa aman dalam pekerjaannya.
- Memperhatikan
peningkatan status guru dengan memenuhi kelengkapan status berupa
perlengkapan yang mendukung kedudukan kerja guru, misalnya tersediahnya
ruang khusus untuk melaksanakan tugas, tempat istirahat khusus, tempat
parkis khusus, kamar mandi khusus dan sebagainya. ( Junaidin, 2006).
- Menggerakkan
guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat untuk mensukseskan
program-program pendidikan di sekolah.
- Menciptakan
sekolah sebagai lingkungan kerja yang harmonis, sehat, dinamis dan nyaman
sehingga segenap anggota dapat bekerja dengan penuh produktivitas dan
memperoleh kepuasan kerja yang tinggi.
2.
Dinas Pendidikan setempat selaku
pihak yang ikut andil dalam mengeluarkan dan memutuskan kebijakan pada sektor
pendidikan dapat melakukan langkah sebagai berikut :
- Memberikan
kemandirian kepada sekolah secara utuh
- Mengontrol
setiap perkembangan sekolah dan guru.
- Menganalisis
setiap persoalan yang muncul di sekolah
- Menentukan
alternatif pemecahan bersama dengan kepala sekolah dan guru terhadap
persoalan yang dihadapi guru
Komentar
Posting Komentar